Pembelajaran
matemetika selama ini ternyata masih salah. Masih banyak guru yang menggunakan metode tradisional yaitu
dengan ceramah. Guru hanya menganggap muridnya sebagai obyek tanpa
memperhatikan potensi yang dimiliki oleh siswa. Guru kurang menghargai
kemampuan yang dimiliki siswa dan cenderung terkesan menggurui. Guru seharusnya
juga berperan sebagai fasilitator bukan malah bersikap otoriter terhadap siswa.
Seharusnya guru mengemas materi pelajaran matematika
menjadi sesuatu yang dapat menarik siswa untuk belajar. Guru jangan terlalu
menekan dan menuntut siswa untuk menuruti semua kehendak yang guru inginkan
akan tetapi lebih mendengarkan suara hati dan keinginan siswanya. Karena segala
sesuatu tidak bisa dipaksakan biarlah siswa yang menyampaikan dan mengembangkan
apa yang mereka inginkan. Dan biarlah siswa itu sendiri yang menkaji lebih
dalam segala sesuatunya.
Guru
harus tahu bahwa kemampuan siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda, jadi
guru jangan terlalu menuntut hasil yang sama antara siswa yang satu dengan yang
lainnya setelah proses pembelajaran berakhir. Bukankah dalam suatu
pembelajarannya yang paling terpenting adalah prosesnya. Sehingga siswa tidak
merasa tersisihkan dari dalam kelas ketika mereka mendapat nilai yang kurang
memuaskan dari hasil proses pembelajaran. Guru juga harus memperhatikan setiap
siswa, mengenali karakter, mengenali satu persatu keperibadian siswanya dan memahami
apa yang mereka inginkan dalam proses pembelajaran agar materi yang disampaikan
mudah diterima oleh siswa. Bukan malah menjadikan siswa sebagai obyek yang bisa
di ekploitasi dan menjadikan siswa tidak bisa mengembangkan apa yang dimilikinya.
Akan tetapi menjadikan siswa sebagai subyek yang dilibatkan secara langsung dan
berperan aktif dalam pembelajaran. Seharusnya guru juga harus bersikap
demokrasi yaitu memperlakukan siswa secara adil. Tidak membeda-bedakan mana
siswa yang duduk didepan, siswa yang pintar, siswa yang kurang pintar dan
sebagainya. Karena setiap siswa mempunyai hak sama. Guru bukan seseorang yang
sempurna didunia ini karena kesempurnaan itu hanya milik tuhan. Jadi seorang
guru jangan terkesan menggurui karena hal tersebut bagi siswa terkesan sombong.
Oleh karena itu sudah saatnya cara
mengajar seorang guru harus diubah. Cara mengubah seorang guru menjadi inovatif
seperti halnya membuat sebuah kue. Hal yang pertama kita lakukan adalah
menyiapkan komponen-komponen dalam pembelajaran. Komponen-komponen tersebut
adalah siswa, metode, materi, guru.
Kemudian mengaitkan antar komponen-komponen tersebut menjadi sesuatu yang
relevan. Setelah komponen- komponen tersebut sudah saling berinteraksi dan
menjadi satu kesatuan yang utuh maka tujuan pembelajaran akan tercapai. Dengan
tercapainya tujuan pembelajaran yang dicapai oleh siswa diharap siswa mampu
mengiplementasikan dalam kehidupan nyata. Untuk mencapai tujuan pembelajaran
yang diinginkan diperlukan prinsip demokratis yaitu dari siswa untuk siswa dan
oleh siswa. Jadi siswa sendiri yang mengembangkan segala potensi yang
dimilikinya. Guru hanya menjadi fasilitator bagi siswa yaitu melayani segala
sesuatu yang diinginkan ketika siswa membutuhkan. Siswa bukanlah robot yang
bisa diperlakukan sesuai dengan keinginan guru. Untuk menjadi guru yang
inovatif diperlukan perubahan yang mendasar baik dari segi pola, pradigma,
metode, pengetahuan, niat, doa, hingga sikap. Dimulai dari will yaitu meluruskan niat untuk mengubah dan membuat program pembelajaran menjadi inovatif yang
menyenangkan untuk siswa. Setelah meluruskan niat, guru juga harus mengubah attitude yaitu guru harus bergaul dengan
orang yang dapat membantu guru dalam mengubah sikap menjadi guru yang inovatif
yaitu dapat memberdayakan siswanya. Apabila semua cara tersebut dilakukan maka
guru akan menjadi guru yang inovatif yang menghasilkan peserta didik yang
memiliki skill, knowledge, dan experience.
1. Apakah pembelajaran diSD untuk saat ini sudah menggunakan
metode yang efektif dan efisiensi? Jika belum metode seperti apa yang harus
digunakan?
2.
Bagaimana
kriteria seorang guru yang cocok untuk siswa Sekolah Dasar?
3. Apakah dalam proses pembelajaran matematika nilai dan
norma juga dibutuhkan guna menunjang pembelajaran yang efektif dan efisiensi?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar