Rabu, 20 Maret 2013

REFLEKSI (Mathematics and Language 2)


Segala sesuatu itu tidak bisa dipaksakan. Jika dipaksakan akan menjadi bencana. Seperti halnya dengan matematika, guru tidak bisa memaksakan siswa untuk menyukai matematika. Apabila dipaksakan siswa akan terkena bencana. Karena sebenarnya matematika sudah berada dalam diri siswa yang menyatu dalam jiwa dan pikiran. Jadi matematika akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan pengalaman siswa. Tumbuh dan berkembangnya pengalaman akan membantu siswa dalam meningkatkan Intuisi. Dimana intuisi dapat membantu siswa untuk mengembangkan olah pikirnya. Dengan begitu, rasa suka terhadap matematika tidak bisa dipaksa. Rasa suka itu harus tumbuh dari hati, karena segala sesuatu yang dilakukan dengan niat yang ikhlas dan sepenuh hati akan bernilai ibadah.

REFLEKSI (Mathematics and Language 10)


Manusia di ciptakan Allah dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dengan kelebihanya manusia dapat menciptakan teknologi yang dapat membantu mempermudah kehidupannya. Dalam dunia pendidikan teknologi sangat diperlukan guna menunjang pendidikan yang inovatif. Teknologi seolah-olah sudah menjadi makanan sehari-hari untuk siswa. Segala kegiatan pembelajaran tidak lepas dari teknologi. Seperti laptop, LCD, HP, dan Internet. Dengan mennggunakan Internet kita dapat berada diberbagai belahan dunia melalui dunia maya. Bertukar informasi, berdiskusi, dan lain sebagainya dapat kita lakukan melalui internet. Teknologi dapat memberi dampak positif dan negatif bagi siswa, tergantung pada diri siswa masing-masing. Bagi siswa yang dapat memanfaatkan teknologi dengan baik, teknologi akan memberikan manfaat bagi siswa. Akan tetapi bagi siswa yang tidak mampu memanfaatkan teknologi dengan baik, teknologi akan menjadi bencana bagi siswa. Oleh karena itu, siswa harus bisa memanfaatkan teknologi dengan baik agar tidak jatuh pada lembah kenistaan.

REFLEKSI (Masukkan untuk Perbaikan Draft Kurikulum 2013_ Oleh Marsigit)


Dengan membaca artikel ”Masukkan untuk Perbaikan Draft Kurikulum 2013_ Oleh Marsigit”, pikiran saya menjadi terbuka bahwa pergantian kurikulum KTSP 2006 menjadi kurikulum 2013 perlu dilakukan. Saya yang semula kontra dengan adanya pergantian kurikulum KTSP 2006 menjadi kurikulum 2013, sekarang menjadi setuju setelah membaca klarifikasi dan pemaparan tentang pentingnya kurikulum 2013 oleh bapak marsigit. Dulu saya menganggap bahwa kurikulum 2013 akan membawa bencana bagi siswa dan guru. Akan tetapi setelah membaca uraian dan saran artikel diatas saya menjadi tahu bahwa hendaknya kurikulum 2013 harus berlandaskan dari UUD 1945 dan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dijabarkan guna menciptakan pendidikan karekter bagi siswa maupun guru. Pancasila merupakan klausial material yaitu nilai-nilai pancasila sudah ada sejak nenek moyang kita (sebelum bangsa Indonesia merdeka). Jadi, dengan adanya nilai-nilai pancasila yang sejatinya sudah berada dalam kehidupn sehari-hari kita kurikulum 2013 akan mudah terealisasi dan diterima oleh masyarakat.

REFLEKSI (News Update: Koalisi Pendidikan Menolak Kurikulum 2013 Tolak Perubahan Kurikulum Pendidikan)


Setiap perubahan akan mengakibatkan dampak positif maupun negative. Hal ini selaras dengan perubahan kurikulum dari KTSP 2006 menjadi kurikulum 2013 yang menuai pro dan kontra dalam dunia pendidikan. Para Koalisi Pendidikan, Praktisi Pendidikan, Federasi Serikat Guru Indonesia, Orang Tua Murid, dan ICW menolak perubahan kurikulum pendidikan KTSP 2006 menjadi Kurikulum 2013 dengan alasan bahwa kurikulum 2013 belum memiliki latar belakang yang kuat dan terkesan terburu-buru. Mereka menganggap bahwa mengganti kurikulum tidak menjamin bahwa pendidikan di Indonesia akan maju. Seharusnya, sebelum dilakukan perubahan kurikulum hendaknya guru terlebih dahulu diberi bekal pengetahuan agar dalam menghadapi kurikulum 2013 guru tidak mengalami hambatan. Karena kurikulum 2013 menuntut siswa untuk lebih inovatif dan kreatif dalam menyajikan materi yang akan disampaikan. Apabila guru tidak bisa mengemas materi pembelajaran menjadi inovatif maka kurikulum 2013 tidak akan berjalan. Oleh karena itu, hendaknya sebelum di lakukan evolusi kurikulum dilakukan peningkatan kualitas guru dengan cara memberikan pelatihan. Dengan begitu guru akan menjadi lebih siap dalam menghadapi kurikulum 2013. Dan yang perlu diingat bahwa sebelum melakukan perubahan kurikulum KTSP 2006 menjadi kurikulum 2013 adalah perlu dilakukan evaluasi kurikulum sebelumnya. Selain itu, perubahan kurikulum harus melibatkan para guru dan pakar pedagogik dalam proses penyusunan kurikulum. Dan jangan memaksakan pergantian kurikulum apabila guru dan siswa belum siap maka akan terjadi bencana.

Minggu, 17 Maret 2013

REFLEKSI VIDEO KELAS 2 SD (Bercermin dari Pendidikan Jepang yang Inovatif)



            Sistem pendidikan antara negara satu dengan negara lain tentunya memiliki perbedaan. Begitupun dengan pendidikan di Indonesia dan pendidikan di Jepang yang cukup memiliki perbedan signifikan. Mulai dari sistem, metode, cara, hingga guru semuanya berbeda. Melalui tayangan video pembelajaran di Jepang, kita dapat belajar untuk menuju pendidikan yang lebih baik.
Dalam video tersebut, proses pembelajaran dimulai dengan guru melakukan apersepsi kepada peserta didiknya dengan cara mengaitkan materi yang akan dipelajari, sebagai pengantar sebelum proses pembelajaran dimulai. Apersepsi tersebut dimaksudkan untuk mengingatkan kembali materi yang dipelajari siswa sebelumnya. Selanjutnya guru memberikan penjelesan singkat mengenai materi yang akan disampaikan. Guru yang terlibat dalam pembelajaran tergabung dalam teaching team. Guru berperan sebagai peneliti dan bersama-sama dalam memecahkan masalah. Setelah apersepsi dan penjelasan singkat mengenai materi yang akan diberikan guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbicara dan menyampaikan pendapatnya dengan tujuan untuk menyamakan konsep antara guru dengan siswa. Agar diperoleh persamaan konsep materi antara guru dan siswa yang berada dalam ruang kelas tersebut. Setelah diperoleh persamaan konsep antara guru dengan siswa baru kemudian guru membagikan LKS (student worksheet) kepada siswa sebagai media yang digunakan dalam proses pembelajaran. Setiap siswa memperoleh LKS (student worksheet), guru memberikan waktu kepada siswa untuk menegmbangkan potensi yang dimilikinya melalui media pembelajaran yang diberikan. Serta siswa dapat mengembangkan kecerdasan olah pikirnya terhadap materi yang disajikan. Melalui media pembelajaran yang disediakan siswa diberi kebebasan untuk mengeksplor kemampuannya untuk menemukan hal-hal baru yang belum pernah ditemukan, memecahkan berbagai persoalan yang semakin mengembangkan olah pikir siswa. Dalam proses pembelajaran tersebut guru hanya berperan sebagai fasilitator dalam diskusi untuk pemecahan masalah (problem solving), memberi gambaran tentang konsep-konsep yang belum dipahami oleh siswa sesuai dengan yang dibutuhkan.
Guru memberikan materi sepenuhnya kepada siswa. Siswa sendiri yang mengolah segala macam bentuknya. Jika ada hal-hal yang tidak dipahami siswa baru guru memberikan penjelesan mengenai masalah yang sedang dihadapi siswa. Selanjutnya siswa sendiri yang memecahkan masalah tersebut hingga ditemukan solusinya. Metode yang digunakan dan dikembangkan guru Jepang ini yaitu metode demokrasi dengan prinsip dari siswa, untuk siswa, dan oleh siswa. Guru juga mengemas materi sedemikian rupa sehingga siswa tidak hanya mampu menentukan jawaban dari persoalan yang akan dipecahkan akan tetapi siswa diharapkan mampu menganalisis secara mendalam tentang konsep materi tersebut. Mengungkapkan bahwa dalam sebuah permasalahan tidak hanya bisa dipecahkan melalui satu cara, akan tetapi melalui beberapa cara yang bisa dikembangkan.
Siswa dibagi kedalam kelompok-kelompok kecil untuk mengulas dan menyamakan persepsi tentang konsep yang telah dipelajari dari materi yang diberikan. Apabila siswa mengalami perbedaan persepsi dalam berdiskusi, guru akan menjadi pihak penengah dan memberi masukan dalam proses persamaan konsep. Kemudian siswa menjelaskan dan mengungkapkan mengenai hasil dari diskusi yaitu berupa analisis masalah. Analisis masalah antara siswa satu dengan siswa lainya berbeda tergantung pemahaman siswa. Walaupun begitu guru tetap menghargai hasil olah pikir siswanya ketika ada siswa yang belum bisa memecahkan masalah secara sempurna. Siswa juga diberi kesempatan untuk bertanya kepada temannya yang sedang menjelaskan uraian materi didepan kelas apabila belum jelas dengan penjelasan yang diberikan.
 Melalui metode pembelajaran yang diberikan tersebut siswa mampu mengembangkan sifat rasa percaya diri, berani berpendapat sehingga mampu melatih kepekaan intuisi siswa. Intuisi adalah pemahaman, pengetahuan yang tidak bisa dijelaskan atau didefinisikan. Dengann berkembangnya intuisi siswa maka pemahaman siswa akan semakin berkembang.

Sabtu, 09 Maret 2013

REFLEKSI(Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 9: School Mathematics)


Menurut  Ebbutt and Straker (1995) mendefinisikan SCHOOL MATHEMATICS, hakekat Matematika Sekolah sebagai berikut:
1. Matematika adalah kegiatan penelusuran pola atau hubungan
2. Matematika adalah kegiatan problem solving
3. Matematika adalah kegiatan investigasi
4. Matematika adalah komunikasi
Dari keempat poin diatas tentunya memiliki hubungan yang saling keterkaitan antara point yang satu dengan yang lainnya. Keempat point tersebut tentu sebuah proses menuju pembelajaran yang inovatif. Matematika sebagai pola merupakan sebagai penelitian pola dari struktur, perubahan dan ruang. Matematika sebagai problem solving akan membantu siswa untuk mengembangkan kemampuanya serta membantu siswa untuk berekplorasi, serta dapat memecahkan masalahnya dengan pikiran dan gagasan-gagasan emas yang dimilikinya. Matematika sebagai kegiatan investigasi akan mendorong siswa untuk menemukan solusi dari suatu permasalahan yang dihadapi. Serta dapat mengembangkan rasa keingintahuanya terhadap suatu hal. Sedangkan matematika sebagai komunikasi untuk mengenalkan bahwa dalam simbol matematika juga terdapat makna. Matematika merupakan bahasa, artinya matematika tidak hanya sekedar alat bantu berfikir, alat untuk menemukan pola, tetapi matematika juga sebagai wahana komunikasi antar siswa dan komunikasi antara guru dengan siswa. Bahasa yang di gunakan dalam matematika dengan menggunakan simbol-simbol.

REFLEKSI (Elegi Pemberontakan Pendidikan Matematika 6: Apakah Matematika itu Ilmu?)


Dengan membaca artikel diatas kita menjadi tahu bahwa INTUISI itu penting dan perlu untuk dikembangkan sejak dini. INTUISI timbul karena adanya suatu pengalaman. Matematika dikatakan ilmu jika dibangun di atas INTUISI. Matematika akan menjadi ilmu jika dibangun diatas kerangka ruang dan waktu. Dengan begitu diharap guru dapat membantu siswa untuk mengembangkan INTUISI dengan cara membiasakan siswa untuk berinteraksi dalam lingkungan sekitar saat proses pembelajaran berlangsung. Dalam artikel tersebut kant menyimpulkan bahwa "Matematika akan menjadi Ilmu jika dia bersifat SINTETIK A PRIORI". Maksud dari A priori adalah logika atau pikiran, seorang yang bermanfaat apabila seseorang dapat menyumbangkan pikirannya secara sistematis. Oleh karena itu, matematika perlu dibangun berdasarkan INTUISI dan bersifat SINTETIK A PRIORI.