Kamis, 11 April 2013

REFLEKSI(Dialog Internasional 7 Pendidikan Matematika)


Pendidikan matematika dan matematika murni ibarat dua sisi mata uang. Pendidikan matematika lebih menekankan pada aspek pedagogik, bagaimana guru memperkenalan matematika kepada peserta didik dan melibatkan siswa sat kegiatan pembelajaran serta bagaimana siswa dapat menerima dan menganalisis materi yang disampaikan oleh guru. Sedangkan matematika murni lebih menekan pada konsepan matematika secara rinci dan konseptual. sebenarnya antara pendidikan matematika dan matematika murni saling behubungan dan berkesinambungan antara satu dengan yang lain karena sama mempelajari matematika. Hanya saja aspek yang dikaji antara matematika murni dan pendidikan matematika berbeda.

REFLEKSI (Elegi Ritual Ikhlas I: Informasi awal)


Kata ikhlas itu mudah di ucapkan dengan lisan tetapi sulit di ucapkan pada hati yang dalam. Rasa ikhlas itu hendaknya selalu kita terapkan setiap hendak melakukan kegiatan. Karena dengan hati yang ikhlas dan tulus semua akan berjalan dengan maksimal dan memuaskan.Mengembangkan rasa ikhlas itu dapat dimulai dengan mensyukuri nikmat Tuhan. Melaksanakan semua perintah-Nya serta melakukan hal-hal yang dapat membantu orang lain.
Menjadi guru juga harus di dasari dengan rasa ikhlas. Supaya ilmu yang kita sampaikan dapat bernilai sebagai pahala. Oleh karena itu, tingkat keikhlasan itu perlu dikembangkan supaya hal yang kita lakukan tidak sia-sia dan dapat bernilai sebagai pahala.

REFLEKSI (Elegi Bagaimana Matematikawan Mengusir Setan?)


Segala sesuatu itu tergantung dengan niatnya. Niat yang Lurus maka akan menghasilkan hasil yang kita harapkan. Namun sebaliknya jika niat tersebut belok maka hasil yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan, maka luruskanlah niat sebelum kita melakukan suatu hal.
Manusia itu merupakan mahkluk ciptaan Allah yang sempurna dibanding dengan mahkluk-mhkluk lain yang diciptakan-Nya. Manusia dengan segala kelebihannya diharap mampu melawan godaan syaitan yang dapat menyesatkan manusia berada pada jalan yang salah yang dapat menimbulkan kemaksiatan dalam hidup. Oleh karena itu, manusia dengan akal dan pikirannya seharusnya mampu memecahkan permasalah pembelajaran matematika yang selama ini menjadi salah satu masalah pelik dalam dunia pendidikan. Selain itu hati yang iklas dan niat yang tulus merupakan salah satu bahan kontruksi yang harus dipenuhi untuk membangun pondasi yang kokoh dalam pembelajaran matematika.

Rabu, 03 April 2013

REFLEKSI (Mathematics and Language 7)


Segala sesuatu jika dipaksakan akan memperoleh hasil atau tujuan yang tidak diinginkan. Seperti halnya dengan pembelajaran matematika, guru tidak boleh memaksakan siswa untuk menyukai pelajaran tersebut. Karena pada hakikatnya bahwa matematika itu adalah siswa itu sendiri.jadi guru tidak boleh menuntut dan memaksa siswa untuk menyukai matematika. Seharusnya dalam kegiatan pembelajaran siswa diberi kesempatan untuk menganalisis pola-pola hubungan unuk memecahkan suatu permasalahan yang dapat menambah pengalaman siswa guna mempertajam intuisi seorang siswa. Menemukan hal-hal baru yang dapat membantu tumbuh dan berkembangnya kemampuan olah pikir siswa. Fungsi guru hanya sebagi fasilitator yaitu menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan oleh siswa serta sebagai pengawas siswa dalam menganalisis memecahkan suatu permasalahan. Akan tetapi pada saat ini kebanyakan guru masih menggunakan metode tradisional yaitu dengan ceramah, menjelaskan materi kemudian menerangkan bagaimana memecahkan suatu permasalahan. Setelah itu siswa dituntut untuk memecahkan masalah tersebut dengan cara yang sama. Keadaan seperti ini yang akan membuat intuisi siswa menjadi terbunuh. Karena siswa tidak bisa menngunakan pengalaman dan mempertajam pengalamannya.
Selain itu komunikasi merupakan salah satu aspek penting bagi guru dan siswa. Karena dengan komunikasi hubungan antara guru dengan siswa dapat terjalin dengan baik dan tidak akan menimbulkan misscomunication. Komunikasi berfungsi untuk menyampaikan materi pembelajaran kepada siswa dengan tujuan materi yang disampaikan guru dapat diteima oleh siswa dengan baik dan dapat mengubah tingkah laku siswa menjadi lebih baik. Komunikasi yang baik adalah komunikasi dua arah yaitu guru dengan siswa bukan hanya siswa  atau guru saja.

Selasa, 02 April 2013

REFLEKSI (Mathematics and Language 8)


Komunikasi merupakan hal yang sangat dibutuhkan dalam proses pembelajaran. Dalam matematika dibutuhkan komuikasi antar guru dengan siswa agar siswa dapat memahami apa yang disampaikan oleh guru. Komunikasi dibagi menjadi dua yaitu komunikasi vertical dan komunikasi horizontal. Dalam kegiatan pembelajaran hendaknya menggunakan komunikasi yang sederhana yaitu mengggunakan bahasa sehari-hari tetapi maknanya dapat tersampaikan kepada siswa. Jika dalam suatu kegiatan pembelajaran menggunakan bahasa terlalu tinggi siswa belum bisa secara penuh mencerna bahasa tersebut sehingga dapat menimbulkan perbedaan konsep antar guru dengan siswa.
Pembelajaran matematika untuk siswa Sekolah Dasar (SD) harus berkaitan dengan kehidupan sehari-hari yaitu matematika konkret. Hal ini dimaksud untuk mempermudah siswa dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru. Guru juga harus bisa mengembangkan metode pembelajaran untuk lebih inovatif. Selain itu dalam melakukan kegiatan pembelajaran dalam kelas guru harus menggunakan bahasa yang sederhana agar siswa dapat mengerti apa yang disampaikan oleh guru.

REFLEKSI (Mathematics and Language 9)


Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran dimana guru menjadi fasilitator bagi siswa untuk menganalisis dan menemukan hal-hal baru dari suatu permasalahan dengan segala potensi yang dimlikinya sehingga olah pikir siswa dapat berkembang. Akan tetapi, pada saat masih banyak guru yang masih menggunakan metode tradisional yaitu siswa hanya diberi ceramah dan tidak diberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya. Hal ini menunjukan guru terkesan menggurui. Pradigma seperti inilah yang seharusnya bisa diubah menjadi pradigma baru yang lebih inovatif.
Dalam kegitan pembelajaran guru harus bisa menggunakan metode pembelajaran yang sesuai dengan siswa untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya. LKS (student worksheet) merupakan salah satu media pembelajaran inovatif yang dapat membantu siswa mengembangkan segala potensi yang dimiliki siswa. Aspek lain yang perlu diperhatikan dalam kegiatan pembelajaran adalah adanya komunikasi antar siswa dengan guru. Dengan adanya komunikasi antar guru dengan siswa diharap materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru dapat dipahami oleh siswa. Sehingga tidak terjadi komunikasi satu arah yang dapat menyebabkan tsunami bagi siswa.

Rabu, 20 Maret 2013

REFLEKSI (Dari Lembah Menuju Puncak Gunung Matematika)


Dalam pertemuan pada tanggal 14 maret 2013 kemarin, yang disampaikan oleh Bapak Marsigit kita dapat memetik banyak pelajaran dari proses pembelajaran  yang ada di Australia dan Thailand. Pembelajaran kedua negara tersebut sudah mengacu pada pembelajaran yang inovatif. Dimana siswa yang memecahkan masalah (problem solving), mengenai konsep-konsep yang belum dipahami siswa. Dengan bercermin pembelajaran dari kedua Negara tersebut, diharap pendidikan Indonesia akan lebih maju dengan sistem yang lebih inovatif, kreatif, dan modern.
Pembelajaran matematika membutuhkan accountability (percaya) dan susstaibility (terus). Kedua aspek tersebut saling berkaitan walaupun dalam keadaan sadar maupun tidak sadar, terasa atau tidak terasa, tidur atau tidak tidur. Matematika membutuhkan accountable (kepercayaan) seperti halnya dengan kepercayaan yang diberikan orang tua kita masing-masing kepada kita.
Matematika itu adalah Hermeneutics of life (hermatika kehidupan) yang didalam nya terdapat hermeneutic cycle, text, interpretation, practical, dan unconstrained. Semua komponen yang ada dalam Hermeneutics of life tersebut saling berkaitan satu sama lain sehingga bisa saling menerjemahkan dan diterjemahkan satu sama lain. Dalam metode Hermeneutics of life  (hermatika kehidupan) pembelajaran harus ada daya dan inisiatif. Pembelajaran matematika harus bisa menerjemahkan dan diterjemahkan. Misalnya guru menerjemahkan siswa, siswa menerjemahkan matematika, guru menerjemahkan matematika, matematika menerjemahkan siswa dan lain sebagainya.
Dalam sebuah proses pembelajaran diibaratkan bahwa proses pembelajaran itu seperti halnya dengan mendaki ke puncak gunung. Banyak rintangan dan hambatan-hambatan yang harus dilewati untuk sampai kepuncak gunung tersebut. Untuk sampai ke puncak gunung tersebut dibutuhkan peta dan kompas sebagai petunjuk arah agar perjalanan tidak tersesat sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama untuk sampai pada tujuan. Kompas yang dimaksud disini yaitu guru yang berperan sebagai fasilitator untuk siswa. Mendaki gunung itu diawali dari lembah kemudian baru menuju kepuncak. Diawali dari yang rendah baru menuju  ketinggi. Seperti halnya dengan matematika. Pertama siswa dikenalkan dengan matematika konkret atau nyata yaitu guru memperkenalkan matematika dengan menunjukan contoh benda-benda yang ada disekitar siswa dan biasanya siswa selalu berhubungan langsung dengan benda-benda tersebut. Contohnya ketika makan, gelas dan mangkuk yang digunakan siswa sebagai contoh bangun ruang. Matematika konkret atau nyata mudah diterima siswa. Hal ini disebabkan matematika konkret berhubungan langsung dengan kehidupan siswa. Selanjutnya apabila siswa telah memahami matematika konkret, siswa akan naik ketingkatan yang lebih tinggi, yaitu matematika formal, normatif, dan puncak yang paling tinggi yaitu spiritual. Dengan membangi matematika menjadi tingkatan-tingkatan siswa menjadi tahu bahwa pembelajaran matematika itu sebenarnya dimulai dari lingkungan sehari-hari.
Matematika adalah pattern & relationship, problem solving, investigation, dan communication. Matematika adalah pattern & relationship (mencari hubungan dan pola) yaitu siswa dituntut untuk menemukan pola-pola hubungan terhadap suatu permasalahan, mengkaji lebih dalam serta dapat menarik kesimpulan dari hasil pengkajian tersebut. Setelah siswa mengkaji lebih dalam dan menemukan pola-pola hubungan, baru kemudian matematika berfungsi sebagai promlem solving (pemecahan masalah). Dimana siswa yang memecahkan sendiri permasalahan tersebut. Guru hanya sekedar membantu siswa apabila ada suatu permasalahan yang benar-benar tidak bisa dipecahkan oleh siswa. Matematika juga berperan sebagai investigation (penemuan) yaitu siswa menemukan hal-hal baru dari analisis masalah yang dihadapi, mendorong siswa untuk lebih berpikir kreatif dan inovatif serta dapat menemukan gagasan-gagasan barumenuju pembelajaran yang inovatif. Dan yang terakhir matematika sebagai communication (komunikasi) yaitu matematika dapat membangun hubungan komunikasi baik siswa dengan siswa maupun guru dengan siswa.
A priori adalah logika atau pikiran, seorang yang bermanfaat apabila seseorang dapat menyumbangkan pikirannya secara sistematis. sedangkan a posteriori adalah pengalaman, seseorang pasti mempunyai pengalaman baik maupun buruk. Pengalaman tersebut dapat digunakan sebagai pondasi menuju kehidupan yang lebih baik. Apabila A priori (logika) dan a posteriori (pengalaman) di sinergikan maka akan menjadi sintetik a priori atau ilmu.
Segala sesuatu itu tergantung niatnya. Pekerjaan sekecil apapun jika niatnya tulus maka akan menjadi pahala. Seperti halnya dengan pembelajaran matematika, seharusnya guru dalam kegiatan pembelajaran yaitu membimbing dan mengajar dijadikan menjadi suatu hal yang bernilai ibadah. Dengan begitu kegiatan pembelajaran akan bermanfaat dan tentunya akan mendapat pahala. Selain itu matematika seharusnya diberikan kepada siswa yang sudah siap untuk menerima materi pembelajaran matematika. Jika matematika diberikan kepada siswa yang tidak siap maka akan menjadi suatu bencana atau tsunami bagi siswa. Oleh karena itu, sebelum menerima pembelajaran matematika siswa harus dipersiapkan sedemikian rupa sehingga siswa tidak akan mengalami bencana atau tsunami.